Perburuan Ikan Paus di Indonesia

oleh : Far???????????????????????????????adyna Z. M.

Perburuan ikan hiu akibat perdagangan siripnya untuk dikonsumsi masih menjadi salah satu masalah utama dalam konservasi satwa saat ini.Masalah perburuan hiu dinilai kompleks, karena melibatkan berbagai dimensi dalam isu lingkungan, baik itu dimensi ekonomi, sosial, budaya hingga konservasi itu sendiri.Upaya menghentikannya pun, bukan sebuah perkara mudah. Selama masih ada pembeli yang mau menerima sirip-sirip ini, maka pasar akan selalu terbuka, dan perburuan masih akan terus terjadi. Butuh sebuah pendekatan yang holistik secara ekonomi politik untuk mengatasinya, tidak cukup hanya menangkap pelaku perburuan, namun juga memperkuat regulasi dan Undang-Undang serta penegakan hukum di lapangan terhadap negara penerimanya.

dogfish

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?Di negara kita, perburuan hiu sudah dimulai sejak era 1970-an, dan Indonesia adalah penyuplai sekitar 14% dari kebutuhan sirip hiu dunia antara tahun 1998 hingga 2002.Terkait dengan meningkatnya pasar bagi sirip hiu untuk dikonsumsi, maka tingkat perburuan ikan hiu di Indonesia juga terus meningkat. Perburuan ikan hiu di Indonesia meningkat dari hanya sekitar 1000 Metrik ton di tahun 1950, menjadi 117.600 metrik ton di tahun 2003 dengan nilai ekspor mencapai 6000 Dollar AS di tahun 1975 dan membengkak hingga lebih dari10 juta dollar di tahun 1991. Sebagian besar sirip hiu ini dikonsumsi oleh para penikmat kuliner kelas hotel bintang lima dan sebagian restoran yang menyediakan masakan Cina kelas atas.

Temuan yang juga menarik adalah, nelayan ternyata tidak mengalami penurunan penghasilan yang signifikan jika tiak menangkap hiu. Dalam sebuah studi kasus yang dilakukan di Jawa Tengah, peneliti mencoba mengurangi tangkapan hiu mulai dari 25%, lalu meningkat 50% dan meningkat lagi 75%, bahkan hingga 100% mereka tidak menangkap hiu. Ternyata hasilnya sama, dengan tidak menangkap hiu penghasilan menurun hanya berkurang sekitar 7% bagi pemilik kapal, dan hanya berkurang 3% bagi awak kapalnya.

Keuntungan yang paling jelas diterima adalah para bandar ikan hiu, serta sejumlah besar restoran di berbagai hotel bintang lima dan restoran-restoran kelas atas di berbagai kota di Indonesia yang bisa menjual sup sirip ikan hiu seharga Rp 950.000 semangkuk

Ternyata di balik keganasannya, hiu diburu untuk kebutuhan konsumsi dan obat-obatan yang artinya sebagian besar bagian tubuh hiu bisa dipergunakan, seperti yang pernah terjadi di pantai perairan Cilacap, Jawa Tengah dan Raja Ampat, Papua Barat, baru-baru ini. Padahal, hiu sesungguhnya memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem laut.Hiu merupakan hewan pemangsa puncak (top predator).Jadi, keberadaanya sangat berpengaruh terhadap kesehatan ekosistem, yang menjadi habitatnya.Selaku top predator, hiu menjadi penjaga keseimbangan ekosistem laut.Sebagai predator, hiu tidak hanya sekedar sebagai pemangsa ikan lainnya. Makan ikan lain, hiu memasti­kan agar kondisi ekosistem tetap sehat, agar ikan tetap berlimpah.

Pasalnya, sesungguhnya hiu merupakan predator yang memakan ikan-ikan lain yang tidak sehat, tua, dan lemah.Ini menjadikan peran dan fungsi keberadaan hiu di ekosistem laut begitu vital.Secara tidak langsung mencegah penyebaran penyakit yang dibawa oleh ikan sakit, tua, dan lemah tadi. Alhasil, ekosistem pun menjadi tetap sehat

Saat ini, populasi hiu mengalami penurunan yang cepat dan drastis di seluruh dunia.Ini akibat tekanan perburuan yang begitu tinggi. Permintaan akan sirip hiu terus mening­kat di pasar internasional, disinyalir menjadi pemicu menur­unnya populasi hiu. Sedikitnya 73 juta ekor hiu dibunuh setiap tahunnya.Padahal, setelah dibantai, sebagian besar hanya diambil siripnya saja, sebagai bahan sup.Akibatnya, banyak spesies hiu telah mengalami penurunan lebih dari 75 persen.Bahkan, untuk spesies tertentu penurunan populasi mencapai 90 per­sen.Hiu menjadi sasaran langsung maupun tidak langsung sebagai tangkapan sampingan dalam industri perikanan pela­gis.Ironisnya, Indonesia menjadi negara eksportir hiu terbesar di dunia.

Hiu111-di-Pasar-Tengah-Pontianak-1

Kepunahan hiu akan berdampak besar pada mata rantai makanan di laut. Begitu hiu punah, populasi ikan yang biasa menjadi mangsanya, seperti tuna dan kerapu menjadi meningkat. Kedua jenis ikan itu akan memangsa ikan-ikan di bawahnya secara besar-besaran. Tak pelak lagi, dalam waktu singkat ikan-ikan yang biasa dimakan tuna dan kerapu juga akan habis. Kehabisan makanan, memungkinkan kedua ikan itu lambat laun juga menga­lami kepunahan.Saat ini, hiu memang tengah menghadapi ancaman besar kepunahan karena perburuan siripnya.Populasi menjadi sangat rentan, karena pola reproduksinya yang lambat.Padahal seekor hiu karang membutuhkan waktu 7-15 tahun untuk menjadi dewasa secara seksual.Setelah dewasa, hiu hanya mampu bertelur atau melahirkan (bergantung pada jenis hiu), sebanyak 1 – 10 anak dengan frekuensi reproduksi satu kali setiap 2 – 3 tahun.

Perburuan di Raja Ampat

Raja Ampat di ujung timur Indonesia adalah perairan yang dikenal sebagai surga. Perairan jernih dan dalam yang dikelilingi gugusan pulau itu menjadi tujuan utama para penyelam dunia yang antara lain ingin melihat hiu yang populasinya di dunia semakin langka. Belakangan pemerintah lokal menyatakan kawasan itu sebagai wilayah perlindungan bagi hiu dan pari manta.

Kresna Astraatmadja adalah field producer dokumenter bawah laut.Selama menyelam dan mendokumentasikan Raja Ampat di Papua Barat, dia mengaku hanya melihat satu atau dua yang melintas.Tapi ironisnya, di darat dia melihat ratusan hiu, termasuk dari jenis martil yang selama ini paling dia cari dalam petualangan bawah laut.

“Hiu-hiu itu masih segar, tapi sudah tidak ada siripnya,“ kata Kresna kepada Deutsche Welle yang mengaku sejak awal mendalami diving ingin bertemu hiu martil. Ironisnya, dia bertemu dengan spesies langka itu sudah tidak bersirip: mati di sekitar pantai salah satu pulau Raja Ampat.

016629029_40400

 hiu martil tanpa sirip di raja ampat

Di pantai di belakang gubuk, dia menemukan seratusan lebih sirip kering dan daging hiu. Dua nelayan yang dia temui mengaku menjual sirip hiu setiap kilogram seharga Rp 1 juta untuk yang berwarna hitam, sementara yang ujung siripnya berwarna putih sekitar Rp 1,5 juta.

Kresna juga menemukan bangkai-bangkai hiu tanpa sirip bergelimpangan di perairan sekitar pantai. Hiu mati itu dibiarkan beberapa saat di dalam air, dan setelah itu akan diambil dagingnya untuk dijual seharga Rp 15 ribu per kilogram.

Sirip dan daging hiu lantas dikirim ke Sorong, dan di sana sudah ada penadah yang siap membelinya untuk kemudian dikirim ke Jakarta.

Pemasok utama

Perairan Indonesia adalah surga bagi hiu dan para pemburunya.Lebih dari 10 juta hiu dibunuh setiap tahun di perairan Nusantara.Indonesia adalah pemasok utama dalam rantai bisnis yang bertanggungjawab atas kematian 73 juta hiu di dunia setiap tahun.

Perburuan hiu di Indonesia adalah sebuah wilayah abu-abu.Kemiskinan dan ketidaktahuan membuat nelayan miskin terus memburu hiu.Apalagi sirip spesies ini berani dihargai cukup mahal.

hiu1

Perburuan sirip hiu tetap marak karena ada permintaan tinggi dari luar negeri

“Masalahnya permintaan (sirip hiu-red) terus tinggi. Pasar terbesar sirip hiu sesungguhnya ada di luar negeri,“ kata Abdul Halim, direktur kelautan The Nature Conservancy, yang aktif dalam gerakan menyelamatkan hiu kepada Deutsche Welle.

Terutama di beberapa negara yang memang bisa mengkonsumsi produk biodiversitas yang eksotik, kata Halim sambil menyebut Hongkong dan Taiwan sebagai tujuan utama ekspor diam-diam sirip hiu asal Indonesia.

Lebih mahal jika hidup

Abdul Halim mengingatkan bahwa nilai ekonomi hiu akan lebih tinggi saat hidup bebas di lautan lepas.

“Sudah banyak studi yang mengindikasikan bahwa nilai hiu yang hidup lebih mahal dibanding harga sirip jika dibunuh.Pariwisata membuat orang membayar lebih mahal untuk melilhat mereka hidup di lautan bebas,” kata Halim.

Pada 2011, kajian yang dilakukan Australian Institute of Marine Science menemukan bahwa satu hiu karang di Palau menghasilkan hampir 2 juta dollar dari wisata eko sepanjang hidupnya. Jauh lebih mahal ketimbang jika dia mati dan sirip hiu besar yang dijual dengan harga hanya 250 dollar per kilogram.

Tapi masalahnya kini menurut Kresna Astraatmadja, adalah bagaimana membuat keberadaan hiu di Raja Ampat misalnya, punya dampak ekonomi bagi para nelayan sekitar.

“Biaya wisata ke Raja Ampat itu sangat mahal. Sekali ke Raja Ampat itu ongkosnya hampir sama seperti naik haji (sekitar Rp 30 juta). Itu semua untuk biaya diving, penginapan, makan dan lain-lain.Itu seharusnya ikut dinikmati penduduk setempat.”

Seperti di Costa Rica kata Kresna, di mana para nelayan diajak menyelam: diberdayakan, diajari jadi dive guide, dipekerjakan di resor-resor, atau industri yang menunjang wisata menyelam. Itu akan otomatis membuat mereka berhenti bahkan akan ikut menjaga dan memperingatkan kawan-kawannya agar jangan membunuh hiu

Upaya perlindungan jenis ikan terus kami kampanyekan dan susun kebijakannya, saat ini sedang disusun beberapa konsep kebijakan perlindungan jenis, diantaranya untuk hiu. Saat ini, inisiasi status perlindungan hiu paus telah memasuki proses legislasi final untuk penetapannya. Hiu paus merupakan salah satu jenis yang memiliki potensi cukup tinggi untuk pengembangan pariwisata bahari, oleh karena itu perlindungan hiu paus akan mendukung kegiatan pariwisata, termasuk meningkatkan aktivitas pemanfaatan pariwisata di kawasan konservasi yang telah berkembang selama ini. Selain itu KKP juga telah memiliki NPOA (National Plan of Action) hiu walaupun belum dilegislasi dan sedang direview mengikuti perkembangan saat ini.Perlu diketahui, bahwa sebagian tindakan konservasi hiu telah diatur Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.12/Men/2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap di Laut Lepas, khususnya untuk jenis hiu tikus.Artinya Kementerian Kelautan dan Perikanan telah cukup serius melakukan upaya konservasi hiu.Saat ini juga Diretorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan bekerjasama dengan WWF, P4KSI dan LIPI sedang menyusun buku status perikanan hiu di Indonesia.

Seluruh upaya serius pengelolaan konservasi hiu ini diharapkan memberi dampak positif bagi pencitraan pariwisata Indonesia di mata dunia.Banyak wisatawan yang berhasil memotret sejumlah eksploitasi hewan secara berlebi­han dan mereka bagikan di dunia maya.Tentu saja hal terse­but dapat menjadi pencitraan buruk bagi Indonesia di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s